Polsek Samigaluh

PROFILE :

Kondisi Geografis

Kecamatan Samigaluh merupakan salah satu dari dua belas Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo yang terletak di bagian utara dengan batas wilayahnya sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Magelang. sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Girimulyo, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kalibawang. Secara geografis, sebagian besar wilayah Kecamatan Samigaluh merupakan daerah pegunungan Kecamatan Samigaluh memiliki luas wilayah 6929,31 Hektar, secara administratif meliputi 7 Desa, 106 Pedukuhan, 448 RT dan 210 RW. Dari luas wilayah Kecamatan Samigaluh tersebut terdiri dari: Desa Kebonharjo luas: 748,63 ha; Desa Banjarsari luas 855,44 ha, Desa Purwoharjo luas 1009,2 ha; Desa Ngargosari luas 724,39 ha; Desa Gerbosari luas 1076,6 ha; Desa Sidoharjo luas 1374,46 ha; Desa Pagerharjo luas 1140,5 ha.

Secara geografis Kecamatan Samigaluh terletak di 7.67″ S dan
110.17″ E dengan suhu 20 derajat C s/d 32 derajat C. dan batas wilayah
Kecamatan Samigaluh sebagai berikut:

Sebelah Utara    Kab. Magelang.

Sebelah Timur    Kec. Kalibawang

Sebelah Selatan Kec. Girimulyo

Sebelah Barat    Kab. PurworejoSecara geografis lokasi Samigaluh terletak pada daerah pegunungan / perbukitan dimana jalur transprotasi darat terhubung dengan wilayah Jawa Tengah antara lain, Loano, Purworejo dan Borobudur, Magelang Sebagai pendukung adanya Bandara di Kulonprogo maka wilayah Samigaluh juga terdapat akses pendukung bandara dengan adanya jalur darat yang menghubungkan wiilayah Kec. Kalibawang dan Jawa Tengah. Jalur transportasi ini memiliki prospek baik untuk berkembang. Prospek ini juga didukung oleh kekayaan sumber daya wilayah di bidang pertanian, peternakan, perikanan, wisata. Kawasan perbukitan Samigaluh dengan pemandangan yang elok menyimpan kekayaan di bidang pertanian, perkebunan dan pariwisata. Berbagai produk industri kecil dan kerajinan tangan dapat ditemukan di wilayah Samigaluh. Produk kerajinan Samigaluh seperti Biola, Jam tangan Kayu, produk olahan limbah kayu, menjadi andalah Samigaluh dimana produknya menembus pasaran luar negeri.

Untuk menggarap potensi dan memajukan wilayahnya Pemerintah Kec. Samigaluh memiliki komitmen yang ditunjukkan antara lain pelayanan administrasi cepat dan mudah, dukungan prasarana dasar tersebar di seluruh wilayah. Semua itu didukung oleh kondisi wilayah yang aman dan tentram dengan masyarakat yang guyub.

Luas Daerah dan Geografis per Desa Kec. Samigaluh.

  1. Desa Sidoharjo

Desa Sidoharjo memiliki luas 1.374, 46 Ha dengan prosentase 19,84 % dari
luas Kec. Samigaluh yang terdiri dari 18 Pedukuhan, 39 RW serta 85 RT. Jarak
Desa Ke Kecamatan yaitu 5 km dan batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

  • Sebelah Utara         : Desa Majak Singi, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang
  • Sebelah Timur         : Desa Banjaroyo, Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang
  • Sebelah Selatan     :  Desa Banjarasri Kecamatan Kalibawang dan desa Purwoharjo Kecamatan Samigaluh.
  • Sebelah Barat           : Desa Gerbosari Kecamatan Samigaluh.

2, Desa Purwoharjo.

Desa Purwoharjo memiliki luas 1009,26 Ha dengan prosentase 14,57 % dari
luas Kec. Samigaluh yang terdiri dari 14 Pedukuhan, 28 RW serta 58 RT. Jarak
Desa Ke Kecamatan yaitu 5 km dan batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

– Sebelah
Utara             : Desa Sidoharjo,
Samigaluh

– Sebelah Timur            :  Desa
Banjararum, Kecamatan Kalibawang

– Sebelah Selatan          : Desa
Banjarsari, Samigaluh

– Sebelah Barat              : Desa Gerbosari Samigaluh

3. Desa Gerbosari,

Desa Gerbosari memiliki luas 1076,61 Ha dengan prosentase 15,54 % dari
luas Kec. Samigaluh yang terdiri dari 19 Pedukuhan, 38 RW serta 75 RT. Jarak
Desa Ke Kecamatan yaitu 0,5 km dan batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

– Sebelah Utara             :
Kec Borobudur, Kabupaten Magelang

– Sebelah Timur            : Desa Sidoharjo dan Desa Purwoharjo, Samigaluh.

– Sebelah Selatan         : Desa Banjarsari dan Desa Purwoharjo Kecamatan Samigaluh

– Sebelah Barat             : Desa Ngargosari dan Desa Banjarsari Kecamatan Samigaluh.

4. Desa Ngargosari

Desa Ngargosari memiliki luas 724,39 Ha dengan prosentase 10,45 % dari
luas Kec. Samigaluh yang terdiri dari 11 Pedukuhan, 23 RW serta 55 RT. Jarak
Desa Ke Kecamatan yaitu 3 km dan batas wilayahnya adalah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara            : Kec Borobudur, Kabupaten Magelang
  • Sebelah Timur            : Desa Sidoharjo dan Desa Purwoharjo, Samigaluh
  • Sebelah Selatan         : Desa Banjarsari dan Desa Purwoharjo Kecamatan Samigaluh
  • Sebelah Barat             : Desa Ngargosari dan Desa Kecamatan Samigaluh

VISI DAN MISI :

SEJARAH :

Sebelum terbentuknya Kecamatan Samigaluh pada tahun
1947, wilayah Samigaluh terdiri dari beberapa gabungan Desa yang pada akhirnya
salah satu nama dari gabungan Desa tersebut ditetapkan sebagai nama kecamatan
di wilayah Kulon Progo paling utara.

Sejarah peristiwa 07 Maret 1949 Di Samigaluh

Pada bulan Maret 1949, wilayah Kapanewonan
Samigaluh banyak didatangi oleh pejuang-pejuang Kemerdekaan dari berbagai
kesatuan, antara lain dari TP ( tentara Pelajar ), Brigade 10, Polisi dan dari
kesatuan laskar – laskar lainnya.

Ketika itu pemerintahan di Kapanewonan dipimpin
oleh Bapak Panewu PROJONARMODO
dibantu oleh Bapak PROJOWINARNO. Pada tahun 1949 inilah mulai dibentuk
Datasemen Polisi Pamong Praja (disingkat DP3), dimana R. Ngb. Somoamijoyo juga
menjadi salah satu anggotanya Dengan terbentuknya DP3 ini segenap anggotanya diwajibkan mengikuti latihan
(istilah sekarangnya adalah penataran). Sebagai asramanya ditunjuk rumah R.
Ngb. Somoamijoyo yang kebetulan berada dekat Kantor Kapanewon. Latihan akan
diselenggarakan mulai tanggal 07 Maret 1949 Dan dipimpin oleh inspektur Polisi
R SOEBEKTI.

Pada tanggal 07 Maret 1949 pada saat pertama kali
pelatihan tiba tiba terjadi serangan udara oleh 4 buah pesawat yang menjatuhkan bom, granat dan serangan miltraliur.
Lama serangan udara berlangsung selama 45 menit dan berhenti karena dibarengi
dengan hujan deras. Suasana menjadi menyedihkan sekali diantara korban yang diketahui saudara Pawiroyono,
Ibu Sastrosudarmo beserta anak perempuannya (keduanya meninggal seketika).
saudara Supardi, saudara Bedjo dan seorang anak laki-laki, kita tidak tahu namanya. Semua luka parah dan
kemudian meninggal di RS Boro. Saudara Kromowitono, ketiganya luka parah bahkan terpaksa
invalid. Masih ada seorang korban lagi

yang belum kami ketahui nasibnya, yaitu saudara
Wiyopranoto. Beliau adalah Lurah Samigaluh yang ikut menjadi
anggota DP3.Oleh keluarganya telah dicari ke rumah saudara juga anaknya dan seluruh
tetangganya namun tidak ketemu Demikian setelah penyerangan itu pada malam
malam berikutnya suasana disekitar itu menjadi sangat ekstrim, kalau menjelang
senja orang sudah tidak berani lagi keluar rumah. Diantara bom menghancurkan rumah  serta menimbulkan kerusakan disana sini, ada 2
(dua) bom yang tidak mau meledak yaitu yang jatuh di Masjid Samigaluh bersama
pemuka masyarakat Samigaluh telah mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kemudian pada tahun 1961 ada seorang Perwira Polisi yang datang pemuka –
bersama anak buahnya beranjangsana ke Samigaluh, sekaligus menyerahkan gedung
SMP dengan 3 (tiga) lokal. Rumah dan kelas bantuan tadi saat ini telah tiada
sebab telah diganti dengan gedung permanen yang megah. R. Ngb. Somoamijoyo ikut
menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya sebab polisipun telah ikut
menunjang kemajuan rakyat Samigaluh lewat Pendidikan.

Asal-usul :

Desa
Gerbosari

Pada zaman penjajahan Belanda Kalurahan Gerbosan belum berdiri, pada saat itu wilayah Gerbosari terbagi menjadi tiga Kalurahan, yaitu: Kalurahan Menggermalang, Kalurahan ini terdiri dari 6 (enam) pedukuhan, masing-masing dipimpin oleh Prabot/Dukuh, yaitu: Pedukuhan Sumbo, Pedukuhan Dukuh, Pedukuhan Sendat, Pedukuhan Kayugede, Pedukuhan Menggermalang Pedukuhan Keceme Dipimpin oleh Lurah SASTROWIYONO

Kalurahan
Samigaluh

Sedangkan Kalurahan ini terdiri dari 7 (tujuh)
Pedukuhan masing-masing
dipimpin oleh seorang Prabot/Dukuh, yaitu
Pedukuhan Ketaon, Pedukuhan
Ngroto Pedukuhan Clumprit, Pedukuhan
Jetis, Pedukuhan Jati, Pedukuhan Tlogo, Pedukuhan Karang, Dipimpin oleh Lurah: R.
REKI WIRYO PRANOTO. Lurah ini
gugur pada bulan Maret tahun 1949 saat Samigaluh di Bom oleh
Belanda.

Kalurahan
Kemiriombo, yang terdiri dari 6 (enam) Pedukuhan masing-masing dipimpin oleh
seorang Prabot/Dukuh yaitu: Pedukuhan Sarimulyo, Pedukuhan Kemiriombo, Pedukuhan
Jeruk, Pedukuhan Manggis, Pedukuhan Pengos A, Pedukuhan Pengos B.

Kalurahan
ini dipimpin lurah SOMENGGOLO DIPOMENGGOLO.

Setelah
Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, pada tahun 1947 maka diadakan
penggabungan Kalurahan. Untuk Desa Gerbosari yang terdiri dari 3 (tiga)
Kalurahan Manggermalang, Samigaluh, Kemiriombo pada tahun itu juga di gabung
menjadi satu.

Gerbosari
diambil dari kata:

GER
  = Menggermalang

Во     = Kemiriombo

SA     = Samigaluh

Ri      = Tambahan suku kata

Legenda Desa Gerbosari

Nyai
Sami dan Kyai Galuh adalah keturunan dari Kerajaan Sigaluh Cirebon yang pada
masa Penjajahan Belanda menyelamatkan diri sampai ke wilayah Gerbosari yang
pada saat itu masih hutan belantara. Sampai pada saat ini petilasan dari Nyai
Sami dan Kyai Galuh masih dianggap keramat, diantaranya Makam Nyi Sami yang
ditemukan seorang pembantu setia Ki Condro Geni dan KI Cantang Balung Makam
ketiganya teletak di Punggang Kresek Pedukuhan Karang Sedangkan Kyai Sami yang
menetap di Krajan Dukuh sampai wafatnya dan dimakamkan di Makam Krajan
Pedukuhan Dukuh.

Dari
Nyai Sami dan Kyai Galuh inilah yang dianggap sebagai Cikal Bakal Kalurahan
Samigaluh (Gerbosari Tengah).

Dan
akhirnya diberi nama Samigaluh ditetapkan sebagai nama Kecamatan paling Utara
dari Kabupaten Kulon Progo.

Legenda Sedowayah

Nama
Sedawayah adalah salah satu tempat yang termasuk di legendakan oleh masyarakat,
yang terletak diantara Pedukuhan Karang, Jetis dan Clumprit.

Konon
tempat tersebut di namakan wayah Pangeran Diponegoro pada saat Perang Diponegoro
melawan Belanda menyelamatkan diri sampai wilayah tersebut. Pada saat itu kuda
yang dinaiki tergelincir sehingga mengakibatkan wayah Pangeran Diponegoro
meninggal (sedo), sehingga untuk mengenang disebut Sedowayah.

Legenda Gunung Bakal

Gunung
Cikal Bakal terletak di perbatasan Desa Gerbosari dan Desa Ngargosari. Konon
ceritanya di atas Gunung Bakal akan dibangun sebuah candi, namun gagal dan
menurut penuturan para Pinisepuh batu-batu yang akan dipakai membuat candi baru
sampai Pedukuhan Sendat dan Karang. Memang kenyataan kedua Pedukuhan tersebut
banyak batu – batu besar.Gunung Bakal tersebut terletak di Pedukuhan Jetis dan
Canden.

Diatas
Gunung Bakal terdapat sebuah makam yang dikeramatkan oleh masyarakat
sekitar.Makam tersebut bernama Makam Panembahan Saloka Joyo.

Legenda Temenggung Tringsingan

Legenda
ini belum tahu asal-usulnya hanya Pedukuhan Menggermalang terdapat makam yang
dikeramatkan. Konon makam tersebut adalah Makam Temenggung Tringsingan.

Legenda Dadung Awuk

Legenda
Dadung Awuk dipercayai oleh masyarakat sekitar bekas Kalurahan Kemiriombo.
Konon Dadung Awuk adalah Jin (makluk ghoib) pamong dari Rojokoyo di wilayah
tersebut. Memang kenyataannya daerah bekas Kalurahan Kemiriombo adalah termasuk
lahan kritis/kering/tandus berbatu-batu tetapi para petani (sapi, kambing)
berhasil dalam ternak Rojokoyo. Ceritanya pada waktu tertentu ada suara ghoib
dan para hewan ternak khususnya sapi dan kambing menghadap ke arah asal suara
tersebut.

STRUKSTUR ORGANISASI :

PETA SAMIGALUH: