Polsek Kalibawang

KAPOLSEK KALIBAWANG
KOMPOL SUTARNO, SH.
M.M.

PROFIL

POLSEK KALIBAWANG berlokasi di jalan Sentolo – Mendut KM 23 Pantogwetan Banjaroyo Kalibawang Telp (0274) 821687 Kode Pos 55672

A. SEJARAH

 Pada sekitar tahun 1820-1820 M dalam upaya merebut kemerdekaan dimana daerah ledok (Wonosobo) merupakan benteng pertahanan pasukan para prajurit Ngayogyadiningrat dan dari para pejuang kemerdekaan dari daerah sekitar ledok tersebut ada seorang Adipati Loano yang saat itu menjabat, memiliki seorang putra yang memiliki kesenangan sebagai pengembara memohon ijin kepada ayahnya (Demang Loano) untuk melakukan pengembaraan pertamanya karena telah merasa mampu untuk menjalani kehidupan sebagaimana pengembara-pengembara yang lain.

Dengan memberikan beberapa syarat dan saran akhirnya ayahanda pun mengizinkan namun dalam pengembaraannya Raden Lukito (sang putra) disarankan untuk berjalan mengikuti arus sungai Gowong dari hilir ke hulu dan agar berhenti ketika dia menemukan sebuah pohon Mbawang (sejenis Mangga) yang tumbuh besar di pinggir sungai tersebut untuk membuka sebuah peradaban manusia.

Sebagaimana saran ayahnya Raden Lukito pun memulai pengembaraannya mengikuti sungai Gowong dengan ditemani Bekel (jabatan abdi pada waktu itu) dan beberapa abdi lainnya.

Hari berganti hari minggu berganti minggu Raden Lukito tetap terus menyusuri sungai Gowong dengan ditemani abdinya, hingga suatu hari ketika Raden Lukito berhadapan dengan sebuah pohon besar yang memiliki ciri fisik mirip sebagaimana yang ayahnya katakan Raden Lukito beserta rombongannya memutuskan untuk berhenti dan membuka hutan disekitarnya untuk dijadikan tempat tinggal. berawal dari pohon Mbawang tersebutlah cikal bakal berdirinya kecamatan Kalibawang.

Karena merasa telah mencapai dari puncak perjalannannya yang diwasiatkan oleh ayahnya, Raden Lukito kembali pulang ke Loano sebagai wujud rasa bangga atas keberhasilannya. Setelah mendengar cerita perjalanan Raden Lukito, Adipati Loano memerintahkan Raden Lukito untuk membuat perkampungan atau Kademangan di tempat yang telah disinggahinya dan Raden Lukito diangkat menjadi Demang pertama dengan Gelar Kerto Prawiro I.

Dalam proses pembuatan tempat tinggal Raden Lukito dan Ki Bekel menebangi pohon di sekitar sungai tersebut, suatu ketika sedang sibuk menyiapkan tempat  dengan membersihkan semak belukar Raden Lukito terperosot dan jatuh terus ke bawah tebing yang cukup curam dan terhenti tepat didepan sebuah rumah tua yang disinyalir adalah rumah pertama di Kalibawang.

Setelah berfikir panjang akhirnya Raden Lukito pun  mengurungkan niatnya untuk mendirikan rumah sebagai tempat tinggal baru namun ia memutuskan untuk menempati rumah tua tersebut dengan para abdinya, Setelah beberapa lama Raden Lukito menempati rumah tersebut kejanggalan demi kejanggalan mulai dirasakan oleh dirinya dimana pada setiap malam Jum’at kliwon maupun Selasa kliwon selalu terlihat sesosok pria tua berambut panjang, dan keluar ingus dari kedua lubang hidungnya di kursi goyang. Dalam benak Raden Lukito senantiasa bertanya-tanya siapakah pria tua itu? Namun sampai saat ini entah karena Raden Lukito tidak  berhasil mengetahui atau faktor lupa sampai saat ini keturunan masih belum dapat mengetahui siapa sebenarnya sosok pria tua tersebut.

Setelah cukup umur Raden Lukito pun merasa perlu memiliki keturunan hingga akhirnya dia mempersunting seorang wanita yang merupakan putri Adipati Purworejo bernama Nyi Gober atau lebih dikenal dengan nama Nyi Kopek, Nyi Kopek adalah seorang wanita yang luar biasa. Diceritakan Nyi Kopek adalah salah satu wanita yang sakti mandra guna, kesaktiannya dibuktikan ketika sang suami meminta beliau mengambilkan api dari dapur dia mengambilnya dengan kedua tangannya dan diletakkanlah bara api tersebut di atas selendang yang dipakainya namun apa yang terjadi? Selendang dan tangan yang dipakai untuk mengambil api sama sekali tidak terbakar, melihat kehebatan tersebut Raden Lukito merasa sangat malu hingga suatu hari Raden Lukito berpamitan kepada istrinya untuk melaksanakan bertapa selama empat puluh hari di gunung Gemantung desa Dempel saat ini.

Sepeninggal Raden Lukito bertapa Kademangan Kalimbawang diserang oleh Kademangan Kalilusi dengan tujuan menaklukkan sebagai wilayah kekuasaannya, pertempuran pun tidak bisa dihindari ketika semua prajurit dari Kalimbawang bertemu dengan pasukan dari Kalilusi namun pasukan Kalimbawang kalah dan memutuskan untuk mundur dan melapor kepada  Nyi Gober, mendengar laporan dari para prajurit Nyi Gober pun akhirnya turun tangan sendiri tanpa membawa senjata apapun kecuali alat-alat dapur seperti centong dan irus. Tapi entah apa yang terjadi ketika prajurit Kalilusi bertemu dengan Nyi Gober bukannya melawan Nyi Gober malahan mereka saling menyerang satu sama lain hingga akhirnya prajurit Kalilusi habis serta pemimpin pasukan Kalilusi pun tewas di medan pertempuran tersebut. Dengan membawa kabar gembira Nyi Gober pulang menemui para abdinya yang telah menunggunya.

Hari demi hari dilalui Raden Lukito dalam pertapaannya hingga tempat yang pertamakali didatanginya untuk bertapa masih cukup bersih sampai tubuh Raden Lukito dipenuhi semak belukar sampai tidak terlihat kalau ada seseorang yang sedang berada di tempat itu, tepat pada malam keempat puluh dalam pertapaannya Raden Lukito mendapat sebuah pusaka berupa Keris dan dibawanya pulang ke Kademangan pada tepat hari yang keempat puluh. Karena lamanya beliau menahan haus dan juga lapar dengan tidak meneguk dan memakan sedikitpun makanan hingga badan beliaupun kurus kering seolah hanya tertinggal kulit dan tulang belulangnya saja Raden Lukito berjalan pulang seperti ringannya debu yang ditiup angin hingga tepat didepan pintu rumahnya beliau pingsan dan jatuh membentur pintu rumah. Beberapa abdi yang melihatnya dengan campur rasa bingung siapakah orang tersebut mereka menolong dan memanggil Nyi Gober. Melihat suaminya jatuh terkapar Nyi Gober memerintahkan abdinya untuk membawa Raden Lukito masuk dan diletakkan disebuah dipan yang berada di dekat tungku api dan diberi minum air tajin yang merupakan air bekas cucian beras pada waktu itu. Selama empat puluh hari Raden Lukito masih tergeletak di atas dipan tersebut, hingga ketika terdapat keanehan saat dia bangun dari rasa lemasnya bahwa kulit ari yang selama ini menemaninya selama hidup terlepas sebagaimana pakaian yang membalut tubuh dan berganti dengan kulit yang baru.

Pada setiap malam Jum’at kliwon dan Selasa kliwon seperti halnya benda-benda mistis plungsungan Raden Lukito tersebut senantiasa dibakarkan menyan sebagai sesajen, hingga sampai saat ini kulit tersebut masih disimpan oleh salah satu keturunan Raden Lukito, tapi karena pudarnya paham animisme yang berganti dengan Islam sakral ritual  bakar menyan dihilangkan, dan sebuah keanehan pun terjadi kembali setelah berhenti dibakarkan menyan kulit tersebut secara fisik berubah menjadi mengkerut seperti kawul pohon aren. Sebagai bukti bagi siapa saja yang ingin melihat peninggalan tersebut saat ini disimpan oleh Bapak Supiarto Kalibawang sebagai keturunannya.

Dari pernikahannya Raden Lukito dan Nyai Gober dikarunai seorang putra yang menggantikan Raden Lukito menjadi Demang di Kademangan Kalimbawang dengan Gelar Kerto Prawiro II. Dalam tangan Kerto Prawiro II Kademangan Kalimbawang berhasil memperluas daerah kekuasaannya sampai dengan desa Tambimalang.

Dalam proses selanjutnya Demang Kerto Prawiro II menikahi seorang putri dari Kademangan Tegalgot Kepil. Dari pernikahannya keduanya dikarunia seorang putra yang juga menggantikan Kerto Prawiro II dengan Gelar Kerto Prawiro III. Kerto Prawiro III adalah sesosok Alim yang berjasa besar dalam penyebaran Agama Islam di Tanah Kalimbawang dengan berkerja sama dengan Kyai Ilyas dari Purworejo yang berjasa membangun masjid  tertua di Kalibawang yang berada di dukuh Santren yang merupakan bagian dari Dusun Sabrangkidul saat ini. Selain itu juga diceritaka  bahwa Kerto Prawiro II juga membangun sebuah madrasah atau tempat mengaji bagi para santri di sekitar Kalibawang namun hingga saat ini belum diketahui secara jelas dimana letak madrasah tersebut.

Demi memperlancar keturunan Kerto Prawiro memperistri seorang wanita yang merupakan Putri dari Demang Selomanik dengan dan mendapatkan enambelas orang anak.

Sepeninggal Kerto Prawiro III Kerto Wilogo menggantikan ayahnya sebagai Demang, namun pada masa pemerintahannya gelar Kerto Prawiro dihapuskan karena itu hanya merupakan Gelar turun temurun dari Keluarga.

Seiring berjalannya waktu kalibawang yang dulunya kademangan berangsur angsur memperbaiki keadaan masyarakat hingga akhirnya terbentuk Desa Kalibawang (Karangsambung).

Pada tahun 2003 tepatnya tanggal 19 Juli Kalibawang resmi berdiri sebagai Kecamatan (istilah sekarang di DIY “Kapanewon”).

 

B. GEOGRAFI

  1. LUAS WILAYAH

Kapanewon Kalibawang merupakan satu dari 12 (dua belas) kapanewon yang berada di wilayah Kabupaten Kulonprogo dengan luas daerah 52,97 Km2 atau 9,03% dari luas Kabupaten Kulonprogo, dengan ketinggian 26 – 500 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata rata 39°C / 30°C. 

Jarak pusat pemerintahan kapanewon dengan desa terjauh  yakni 7 Km  dengan jarak tempuh 0,25 Jam, sedangkan jarak ke kota Kabupaten 30 Km dengan jarak tempuh 0,45 jam.

  • 2. BATAS WILAYAH

Kapanewon Kalibawang mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :

a.  Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Mungkid Magelang.

b.  Sebelah Timur Laut berbatasan dengan Kecamatan Muntilan Magelang.

c.  Sebelah Timur berbatasan dengan Kapanewon Minggir Kabupaten Sleman.

d. Sebelah barat berbatasan dengan Kapanewon Samigaluh Kabupaten Kulonprogo.

e. Sebelah selatan berbatasan dengan Kapanewon Nanggulan Kabupaten Kulonprogo.

  • 3. IKLIM

Wilayah Kapanewon Kalibawang pada dasarnya sama dengan wilayah lain mengalami musim hujan dan musim kemarau dimana musinm hujan terjadi  pada bulan Oktober s/d Maret sedangkan musim kemarau pada bulan Maret s/d Oktober, dengan curah hujan rata-rata 4.482 mm/tahun.

C. DEMOGRAFI

  1. Jumlah penduduk

Jumlah penduduk Kapanewon Kalibawang berdasarkan sensus penduduk Tahun 2020 berjumlah 30.601 jiwa dengan perincian sebagai berikut :

– Laki-laki                   : 14.996 jiwa

– Perempuan             : 15.605 jiwa

Dinamika penduduk pada hakekatnya disebabkan oleh beberapa faktor melalui peristiwa-peristiwa penting yang meliputi kelahiran, kematian, kedatangan dan perpindahan.

  • 2.  Warga Negara asing

Wilayah Kalibawang secara keseluruhan penduduknya berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) dan tidak terdapat  Warga Negara Asing.

  • 3.  Warga Negara Indonesia Keturunan

Wilayah Kalibawang secara umum penduduknya berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) dan dari warga Indonesia tersebut tidak terdapat warga keturunan asing yang bertempat tinggal di Kalibawang

  • 4. Tenaga Kerja

Wilayah Kalibawang secara umum penduduknya bermata pencaharian sebagai petani / pekebun, pedagang, peternak, buruh, pengrajin dan ASN / TNI / Polri.

Sedangkan jumlah lapangan pekerjaan yang ada belum mampu menyerap tenaga kerja sehingga sebagian penduduk mencari pekerjaan diluar wilayah termasuk menjadi TKI / TKW.

C. SUMBER DAYA ALAM

  • 1.  Kondisi alam / tanah

Topografi menunjukkan bahwa Kapanewon Kalibawang termasuk ke dalam area dataran tinggi / perbukitan dengan kondisi temperature yang sedang. Kondisi tanah merupakan jenis tanah lathosol dari induk batuan kapur. Didaerah perbukitan dimanfaatkan warga untuk membudidayakan tanaman keras dan sebagian dimanfaatkan untuk menambang batu kapur sebagai bahan bangunan sedangkan didaerah dataran rendah dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan perikanan dengan mamanfaatkan air yang bersumber dari kali Progo.

           2.  Sumber air

Wilayah Kapanewon Kalibawang terdapat sumber air dalam skala kecil di beberapa wilayah kelurahan berupa belik / sungai / sumber / sumur, sedangkan  keperluan air untuk irigasi memanfaatkan air dari aliran sungai Progo yang dialirkan melalui intake Kalibawang.

           3.   Hutan

Hutan yang ada diwilayah Kapanewon Kalibawang merupakan hutan rakyat yang berada di seluruh Kelurahan dengan jenis tanaman keras seperti kayu jati, sengon, sonokeling dan kayu mahoni.

          4.   Hasil Tambang

Hasil tambang yang ada di wilayah Kapanewon Kalibawang berupa komoditi pasir dan batu yang ada di sepanjang sungai Progo yang melintasi wilayah Kelurahan Banjarharjo, Banjarasri dan Banjararum sedangkan untuk daerah perbukitan komoditi yang dihasilkan berupa batu kapur dan tanah.

         5.   Industri

Perusahaan yang berada di wilayah Kapanewon Kalibawang saat ini tergolong industri lokal misalnya industri pemecah batu dan tenun kain, sedangkan industri skala nasional / internasional dengan jumlah buruh dan produksi besar belum ada.

VISI MISI

TERWUJUDNYA PELAYANAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT YANG PRIMA , TEGAKNYA HUKUM DAN KEAMANAN DALAM NEGERI YANG MANTAP SERTA SINERGI POLISIONAL YANG PRODUKTIF

STRUKTUR ORGANISASI

PETA WILAYAH